Tampilkan postingan dengan label Ulas Peralatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulas Peralatan. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Juli 2008

Membeli kamera atau lensa baru dan bekas

Oleh: Bambang Suroyo

Banyak fotografer lebih suka membeli kamera atau lensa dalam keadaan baru. Ini adalah suatu hal yang wajar, karena kita akan mendapatkan model terbaru, kondisi peralatan yang prima, dan umumnya mendapatkan masa garansi. Bila budget yang tersedia mencukupi, maka membeli kamera atau lensa dalam keadaan baru mungkin adalah pilihan terbaik.

Tips membeli kamera atau lensa baru:



  1. Tentukan fasilitas kamera yang diperlukan, tipe dan merek yang diinginkan sesuai dalam
    rentang budget yang tersedia. Untuk mendapatkan gambaran rentang harga, hubungi beberapa toko kamera melalui telepon.

  2. Kunjungi toko kamera dan coba beberapa tipe kamera pilihan anda, untuk merasakan kamera
    yang akan anda beli. Pemilihan tipe dan merek adalah sangat bersifat personal/pribadi
    sehingga anda sebaiknya mencoba sendiri semua segi pemilihan� yang penting untuk anda
    (spesifikasi, ergonomi, kontrol, kemudahan pemakaian).

  3. Dapatkan lensa terbaik sesuai budget anda. Lensa adalah bagian kamera yang akan
    membentuk dan menentukan kualitas hasil foto, sehingga (menurut pendapat saya) lebih
    penting dari body kamera yang digunakan. Untuk mendapatkan informasi mengenai kualitas
    lensa, lihat di PhotoZone atau Photodo web site.


Tetapi membeli dalam keadaan bekas pakai/secondhand patut pula dipertimbangkan. Selain
harga yang lebih murah, ada beberapa alasan untuk membeli kamera atau lensa dalam keadaan
bekas, diantaranya: anda menginginkan kamera atau lensa dengan spesifikasi tertentu tetapi
terlalu mahal untuk membeli dalam keadaan baru; atau anda menginginkan backup kamera
(untuk digunakan dengan lensa atau film jenis lainnya). Berikut ini adalah panduan untuk
membeli kamera atau lensa dalam keadaan bekas (khususnya kamera auto fokus):

Tips membeli kamera bekas:



  1. Periksa keadaan umum kamera, yang akan memberikan gambaran bagaimana pemilik sebelumnya
    merawat dan menggunakan kamera tersebut. Hindari kamera dengan cacat luar ataupun cacat
    dalam yang nyata.

  2. Nyalakan kontrol kamera, dan cek apakah seluruh fungsi dan tombol kontrol atau dial
    kamera berjalan dengan semestinya.

  3. Coba fungsi autofokus dengan sebuah lensa untuk tes, apakah berjalan dengan baik dan
    akurat.

  4. Lihat dari viewfinder kamera dan pastikan gambar dan viewfinder display (bila ada)
    terlihat jelas. Sedikit partikel debu atau kotoran umum didapati pada kamera bekas, tetapi
    adanya cacat/benda asing di viewfinder harus dihindari.

  5. Cek kondisi dan fungsi LCD panel. Cobalah mengganti mode eksposure untuk memastikan
    setiap mode terdisplay dengan baik.

  6. Cek shutter pada berbagai speed/kecepatan, dari yang tercepat sampai terlambat. Anda
    seharusnya akan dapat mendengar adanya perbedaan waktu sesuai dengan pengesetan speed
    shutter pada proses pemotretan.

  7. Lepaskan lensa dan lihat bagian dalam kamera dari arah depan. Cek kondisi kaca/mirror
    apakah tidak terdapat goresan atau retakan dan apakah kaca membuka/menutup kembali dengan
    semestinya dalam setiap proses pemotretan. Juga periksa kondisi focusing screen (di bagian
    atas kaca) apakah dalam kondisi baik dan bebas goresan.

  8. Lihat keadaan mount lensa pada body. Pastikan tidak terdapat distorsi atau kerusakan
    mount karena benturan, dan seluruh pin atau gear/lever pada mount dalam keadaan baik.

  9. Buka bagian belakang kamera, dan lihat keadaan shutter. Seluruh blade shutter harus
    dalam keadaan rata dan tanpa goresan. Set kamera pada speed lambat, dan tekan tombol
    shutter untuk melihat dan memastikan shutter dapat terbuka dalam keadaan penuh. Cek juga
    kondisi rail film dan pressure-plate, yang harus dalam keadaan bebas dari goresan.

  10. Mintalah bantuan petugas/penjual untuk memasang tes film di dalam body. Cek apakah
    kamera me-load, wind, dan rewind film dengan semestinya.

  11. Bukalah kompartemen baterai, untuk meyakinkan tidak terdapat kerusakan kontak pin yang
    disebabkan oleh baterai bocor.

  12. Bila mungkin, mintalah masa garansi (1 atau 3 bulan) dari penjual.


Tips membeli lensa bekas:



  1. Periksa keadaan umum lensa, dan hindari lensa dengan cacat yang nyata.

  2. Goyangkan lensa. Tidak terlalu keras, tetapi cukup kuat untuk mendengar dan mendeteksi
    bila ada elemen gelas di dalam lensa yang tidak terpasang dengan baik atau bahkan
    terlepas.

  3. Periksa bagian depan dan belakang lensa dengan seksama. Hindari lensa dengan elemen
    depan/belakang yang tergores, retak, atau pecah kecil/gumpil.

  4. Lihat bagian dalam lensa ke sumber cahaya (misalnya lampu). Sedikit debu merupakan hal
    yang umum, sedikit jamur (kemungkinan besar) dapat dibersihkan atau diservis. Sebaiknya
    hindari lensa dengan jamur yang banyak dan tebal, atau mempunyai partikel asing di
    dalamnya.

  5. Pasang lensa pada kamera (sebaiknya milik anda) dan yakinkan seluruh fungsi kamera dan
    lensa berjalan dengan semestinya.

  6. Periksa apakah aperture dalam lensa menutup sesuai pengesetan dalam pemotretan. Buka
    bagian belakang kamera, set dalam mode Bulb, dan tekan tombol shutter. Lakukan tes ini
    pada seluruh rentang aperture lensa.

  7. Periksa fungsi autofokus pada lensa, apakah berjalan dengan semestinya dan akurat.

  8. Periksa manual fokus ring pada lensa. Yakinkan manual fokus ring berfungsi dengan baik,
    tanpa suara atau sendatan pada mode manual fokus.

  9. Bila lensa tipe zoom, periksa apakah mekanisme zoom lensa berjalan dengan halus dan
    lancar. Hindari lensa dengan mekanisme zoom yang tersendat-sendat, terlalu keras, atau
    terlalu kendor.

  10. Periksalah filter thread pada bagian depan lensa, dan yakinkan tidak terdapat kerusakan
    atau kemacetan. Bila ragu-ragu, lakukan tes dengan memasang sebuah filter pada lensa
    tersebut.

  11. Bila mungkin, mintalah masa garansi dari penjual.


  12. Disarikan dari pengalaman pribadi, dan beberapa buku referensi tambahan (Canon EOS Systems Guide, Photographer handbook)

Kamera Sony Cybershot DSC-P7

Oleh: Louis Iskandar

Test dan Laporan Seputar Digital Kamera

Maksud saya menulis Artikel
ini adalah untuk membagi pengalaman saya dengan Sony Cybershot DSC-P7, agar
mereka yang mau membeli Digital Kamera sedikit tahu tentang Kamera ini. Ini adalah artikel pertama saya di FN. Saya mohon maaf kalo ada kata yang
salah dan artikel ini tidak menggunakan bahasa Indonesia yang baik. Beberapa
kata-kata pengertian dalam dunia Kamera saya tidak tahu bahasa indonesianya,
karena saya belajar tentang kamera baru di Jerman.

Tentang Kamera


DSC-P7 keluar dengan 3x optik zoom dan 6x digital Zoom. Kamera ini memiliki
Objektiv dar 39mm sampai 117mm. Banyak yang bertanya apa bedanya kamera DSC-P72
dengan DSC-P7, karena DSC-P72 baru keluar dan harganya lebih murah dar DSC-P7
yang sudah lama keluar. Perbedaan dengan DSC-P72:



  • Badannya P7 adalah aluminium yang sangat stabil, sedangkan P72 dari
    plastik.

  • P7 lebih kecil dan enak dipegang di tangan daripada P72 (Menurut saya P7
    itu lebih cantik dari P72)

  • P7 menggunakan Akku Lithium dari Sony, tahan lebih lama dan menunjukan
    sangat tepat berapa lama akku itu bisa bertahan. Sedangkan P72 menggunakan
    batterie biasa tipe AA atau Baterei Charge.

  • Sayangnya P7 tidak bisa membaca MemoryStick Pro dan P72 bisa.

  • P72 mempunya digital Zoom yang lebih banyak dari P7 (9,6x Zoom, tapi siapa
    yang pake digital zoom untuk foto)


P7 mempunyai Autofokus dengan 3 daerah pengukuran, dengan ini dia menjamin
ketajaman gambar yang dihasilkannya. Blitz dari P7 mempunyai jarak dari 0,m
sampai 3,8m, dan memiliki effekt penghindar mata merah. Diafragma dari kamera
ini adalah F2,6 - F5,6.


Yang menarik adalah P7 bisa mengunakan 3 Modus (Malam Hari, Potraet Malam
Hari, dan Pemandangan) dan juga 4 macam Effekt Digital yang bisa dihasilkannya
tanpa harus dikerjakan di komputer anda bisa membuat B&W, Sephia, Solarize, dan
Negative. Kecepatannya mulai dari 2s - 1/2000s, dimana ini jarang dicapai oleh
digital kamera yang lain. Untuk melihat gambar dia menggunakan 1,5 inci
LCD-Monitor. Kamera ini juga dilengkapi dengan Makro modus dan pengambilan Video
sampai 90 Menit


Fazit


Saya sangat puas dengan kamera ini. Dia kecil enak dilihat, enak dipegang di
tangan. Kualitas gambar yang dihasilkannya sangat tajam, bahkan pengambilan
gambar waktu malam hari. Saya sangat menyarankan kamera ini bagi pemula di
bidang digital kamera, kamera ini menawarkan fungsi yang luar biasa bagus dan
kualitas gambar yang sangat tajam. Di bidang Makro dia juga sangat menarik.
Semoga artikel ini bisa memberi pemasukan untuk mereka yang sedang memilih
Digital Kamera. Untuk melihat hasil hasil Foto dari Kamera ini anda bisa melihat
Foto-foto saya yang dihasilkan dengan Kamera DSC-P7.


Galerie Foto dengan Kamera Sony Cybershot DSC-P7

http://www.fotografer.net/isi/galeri/?searchid=21&katacari=5670


Fuji Finepix S304

Oleh: Louis Iskandar

Test dan Laporan Seputar Kamera Digital

Kali saya akan memberitakan hasil Test saya dengan Digital Kamera Fuji
Finepix S304. Mengapa saya menulis artikel ini, karena saya tertarik dengan
berbagai jenis Digital Kamera, maka dari itu saya mencoba untuk mentest semua
beberapa Digital Kamera yang ada. Hasil test saya akan selalu saya tulis di
FN-artikel untuk membantu teman-teman FN yang sedang mencari digital Kamera.


Tentang Kamera


Fuji Finepix memiliki CCD Sensor dari Fujinon dengan 3,24 Megapixel. Kamera
ini mempunyai penampilan yang bagus, Fuji mengambil model SLR kamera dalam warna
silver. Kamera ini mempunyai Zoom objektiv yang besar dari 38mm sampai 228mm,
sehingga punya banyak ruang main buat zoom. Yang menarik kamera ini bisa pake
Tele-Konverter, Wide-Angel, Fish Eye, atau Filter sperti UV-Filter, Skylight
Filter. Kamera ini membuka kemungkinan untuk memasang alat alat tambahan dengan
garis tengahnya 55mm. Tersedia juga adapter dari 55mm ke 52mm dari digital optik
atau soligor dalam warna Silver, karena umunya Adapter warnanya hitam. Sebagai
tambahan terdapat juga 19,2 Digital Zoom. Untuk melihat hasil foto fuji membuat
extra display yang besar 1,8 inci LCD-Display, tapi sayangnya cuma 62.000 Pixel.


Kecepatannya mulai dari 1/2s sampai 1/1500s. Sayangnya hanya satu pilihan
kepekaan cahaya ISO 100, karena itu pengambilan foto di kegelapan atau malam
hari sedikit susah sampai tidak memungkinkan tanpa bantuan cahaya lain. Dia juga
tersedia 4 konfigurasi dasar untuk memoto yaitu Malam, Sport, Panorama, Portrait
Mode. Kamera ini dilengkapin dengan speaker dan microfon untuk mengambilan video
dan Voicenote 30s untuk setiap gambar.

Fazit


Setelah mentest kamera ini, saya senang dengan pegangnya. Kamera ini sangat
enak ditangan, karena bentuknya yang praktis dan elegan, bahkan bisa memoto
dengan satu tangan. Gambar yang dihasilkan cukup bagus, tapi dibandingkan dengan
Sony P7 (Artikel saya yang sebelumnya), Sony menang dengan kualitat fotonya.
Pada mengaturan manualnya sayang kurang leluasa, tapi untuk memoto dengan Auto
focus sudah cukup bagus. Auto Fokusnya cukup cepat, hasil test saya membuktikan
bahwa kecepatan auto fokus S304 lebih daripada Sony P7. Nilai negativ untuk
pengambilan foto di tempat gelap, sangat jelek dan susah. Karena dia cuma samapi
ISO 100 dan kecepatan terlambat cuma 1/2s. walaupun bodynya dari plastik tapi
kamera ini sangat stabil, pernah sekali jatuh dari tangan saya, tapi tidak
terjadi apa-apa, dia juga sangat enteng. Saya beri nilai keselruhan sangat bagus,
karena dengan harganya dan hasil yang dibuat kamera ini sangat memuaskan.


Contoh foto-foto yang diambil dengan Fuji Finepix S304:

http://www.fotografer.net/isi/galeri/?searchid=21&katacari=4676

Test Fuji FinePix S5000

Oleh: Louis Iskandar

Laporan dan Test Seputar Digital Kamera

Juli 2003 Fujifilm mengeluarkan Digital Kamera model Fuji Finepix S5000 adalah All In One Kamera dengan Super Zoom. Karena Fungsinya dan kemampuannya, kamera ini bisa dipakai oleh pemula dan profi fotografer. Dalam Artikel ini sangat memberikan sedikit pengetahuan tentang kamera ini.

Tentang Kamera

Fuji Finepix S5000 adalah model selanjutnya sesudah Fuji Finepix S304. kamera ini memiliki Super CCD HR Level 4 Sensor dari Fujinon dengan 3,24 Megapixel. Kamera ini mampu menghasilkan foto 6,0 Megapixel Penampilan dari S5000 sangat klassik, dia memiliki penampilan dari SLR kamera. Sangat bagus dipegang ditangan dan stabil. Kamera ini mempunyai Zoom objektiv yang luar biasa untuk kamera kelas ini, lensanya dari 37mm sampai 370mm, sehingga punya banyak ruang main buat zoom, tapi sebaiknya zoom diatas 6X menggunakan stativ. Seperti generasi sebelumnya kamera ini bisa pake Tele-Konverter, Wide-Angel, Fish Eye, atau Filter sperti UV-Filter, Skylight Filter dengan ring 55mm. Kamera ini mempunya sambungan ke TV/Video dengan fungsi audio, begitu pula dengan USB 2.0 untuk mentranfers foto-foto ke komputer, begitu pula untuk colokan strom, yang sayangnya harus dibeli sendiri. Microphone dan speaker untuk memainkan atau merekam video juga tersedia di kamera ini.

Dengan 1,5" TFT, 110.000 Pixel bisa digunakan untuk melihat objekt yang difoto atau melihat hasil foto. Blitz dari S5000 bisa mencapai 6,0m� dan� tersedia dalam 3 Modus:

  • Normal:�������������
    Untuk foto biasa
  • Red-Eyes:���������
    Untuk mengurangi effek mata merah.
  • Slow-Syncro:
    Sangat membantu untuk pengambilan foto pada malam hari

Yang menarik dari Kamera ini adalah dia memiliki lampu AF-Illuminator, lampu ini sangat membantu ketepatan Auto Fokus dalam gelap atau malam hari.

Kamera ini tersedia beberapa Program, dari Full Automatik untuk mereka yang hanya ingin melihat dan menjepret tanpa memikirkan fungsi dan effeknya, sampai yang manuell semuanya harus diatur sendir untuk profi yang ingin menggunakan kemampuan kamera secara manuell. Program yang tersedia dari kamera ini adalah:

  • Auto: Full Automatik, dalam mode ini fotografer tidak bisa mengatur apa-apa, hanya bisa mengarahkan kamera dan memfoto. Semuanya diatur oleh kamera.
  • P-Program: Dalam Programm ini memperbolehkan fotografer untuk mengatur beberapa konfigurasi dari kamera, seperti EV, Blitz, Sharpness, dll, Tapi Diafragma dan Kecepatannya diatus oleh kamera.
  • S-Program: Programm ini sama seperti P-Program dengan kelebihan fotografer bisa mengatur sendiri kecepatan shutternya, dan kamera mengatur diafragmanya.
  • A-Program: Kebalikan dari S-Programm disini fotografer bisa mengatur Diagframanya dan kecepatannya diatur atuomatik.
  • Manual: Pada Program ini fotografer bisa mengatur semuanya diagfragma dan kecepatannya dan juga konfigurasinya. Dengan bantuan Alat Ukur Cahaya fotografer bisa tahu apakah kombinasi dari diafragma dan kecepatan pas atau tidak.

S5000 memiliki 3 macam Fokus dan extra tombol untuk memilih fokus tipe pada kamera ini. Tombol ini juga dilengkapidengan funksi lock untuk menghindari tidak sengaja merubah di fokus, jika tombol ini kepencet. 3 macam fokus dari S5000 adalah:

  • Manual: Dengan manual fotografer harus memfokuskan sendiri fotonya.
  • Continue: Menggunakan Continue fokus artinya kamera memfokuskan terus menerus. Berhati-hati jika menggunakan� Fokus tipe ini sangat memakan baterie. Fokus tipe ini digunakan jika kita memfoto sport atau foto yang banyak bergerak.
  • Auto Fokus: Atuo fokus adalah normal fokus eprti kamera kamera umumnya, jika tombol untuk memfoto setengah dipencet, baru difokusin. Auto Fokus pada S5000 bisa dipilih antara Center-Fokus, Multi-Fokus, dan Area-Fokus.
Yang mengagumkan dari kamera ini adalah Serien-Foto, dengan kemampuan buat serien foto 5 foto dalam 1 detik dengan hasil yang sangat memuaskan dan sama seperti hasil dari normal foto. Hasil dari Serien Foto bisa kalian lihat di bawah, saya mengambil foto ini dengan fungsi ini, 3,24 Megapixel (Resolusi: 2048x1536x24Bit), kualitatnya sedikit turun karena harus dikompress pake ACDSsee agar tidak terlalu besar.


Kamera ini memiliki kecepatannya mulai dari 2s sampai 1/2000s dan memilik ISO 100-800, tapi sayangnya pada ISO 800 harus menggunakan 1 Megapixel. Foto malam hari sangat bagus. Dia juga tersedia 4 konfigurasi dasar untuk memoto yaitu Malam, Sport, Panorama, Portrait Mode. Kamera ini dilengkapin dengan speaker dan microfon untuk mengambilan video dan Voicenote 30s untuk setiap gambar.

Hasil Foto

Sekarang kita akan membahas bagaimana hasil foto dari Kamera S5000. Saya mengadakan test sederhana dengan warna warna ballpoint dan� warna buku dan juga tulisannya. Beberapa test yang saya lakukan adalah sebagai berikut:

  • Saya coba juga untuk memperbesar resolusi di PhotoImpact untuk melihat kejerniaan gambarnya pada saat zoom.
  • Saya mencoba berbagai kombinasi dari kamera.
  • Saya bandingkan dengan JPEG dan RAW format.
Seperti yang bisa dilihat dari besarnya data dari foto-foto dari kamera ini sangatlah kecil. Dengan 3 Megapixel besarnya foto hanya 810KB. Fuji bisa menghasilkan data yang sangat kecil untuk foto-fotonya. Sedangkan biasanya data yang dihasilkan oleh kamera 3 Megapixel adalah 1,2 MB. Bagus kita bisa membuat lebih banyak foto daripada kamera lainnya. Tapi apakah hasilnya sama dengan kamera lainnya...

Foto yang dihasilkan kamera ini sangatlah bagus, tapi jika kita zoom maka akan terlihat beberapa distorsi/gangguan pada pixel-pixelnya, karena Fuji terlalu mengkompress Foto-Fotonya. Menurut saya sangat sayang Fuji mengkompress hasil fotonya terlalu banyak. Terutama jika saya menggunakan 6 Megapixel, akan terlihat lebih jelas pada saat Zoom. Tapi untungnya kamera ini memperbolehkan kita untuk menyimpan dalam format RAW data/ data murni 1 foto besarnya sekitar 6,8 MB, tapi foto yang dihasilkan benar benar bagus tanpa satu gangguan pun, sangat dianjurkan jika anda merencanakan untuk mencetak dalam format besar, atau untuk foto Studio. Makro Funktion juga sangat memuaskan.

Arch Bridge at Edwards Garden: 1/500 sec., F2.8 and ISO 50
3 Megapixel Foto Test: 57mm, Programmed Auto, Spot, 1/220 sec., F8.0 and ISO 200 Compress

Arch Bridge at Edwards Garden: 1/500 sec., F2.8 and ISO 50
6 Megapixel Foto Test: 57mm, Programmed Auto, Spot, 1/220 sec., F8.0 and ISO 200 Compress�

Arch Bridge at Edwards Garden: 1/500 sec., F2.8 and ISO 50
RAW Foto Test: 57mm, Programmed Auto, Spot, 1/220 sec., F8.0 and ISO 200 Compress�

Arch Bridge at Edwards Garden: 1/500 sec., F2.8 and ISO 50
Makro: 57mm, Programmed Auto Makro Compress

Kesimpulan
Kamera ini mempunya penampilan yang sangat elegan dan indah. Jika dilihat banyak sekali kemiripan bentuk dan modelnya dengan SLR kamera, sangat enak dipegang di tangan. Foto yang dihasilkannya juga sangat bagus. Kamera ini sangat mudah digunakannya, oleh karena program automatiknya.Memiliki Zoomnya luar biasa dan harnya yang terjangkau. Sayangnya foto yang dihasilkannya terlalu dikompress. Susah mengatur fokus pada saat Auto Fokus. Tapi dari keseluruhannya saya sangat puas dengan Kamera ini.
Contoh-contoh hasil foto dari Fuji Finepix S5000 bisa dilihat di fotografer.net dengan meklick link dibawah ini:
http://www.fotografer.net/isi/galeri/?searchid=21&katacari=16537

Panduan Membeli Kamera, To Buy Or Not To Buy?

Oleh: Judhi Prasetyo.

To Buy or Not to Buy?

LATAR BELAKANG

Pertama sekali mohon maaf jika judulnya tidak dalam Bahasa Indonesia, ini semata-mata saya belum menemukan kata pengganti yang cocok tapi tidak bertele-tele dan memang suatu plesetan dari dialog karya Shakespeare: Hamlet.

Tulisan ini dipicu oleh pesatnya perkembangan teknologi yang memungkinkan munculnya berbagai model kamera digital baru dalam jangka waktu yang cukup singkat.
Hampir setiap tahun pabrik2 pembuat kamera mengeluarkan model baru dengan fitur yang lebih lengkap, batere yang lebih awet, kinerja yang lebih baik, dan intinya menjanjikan hasil foto yang lebih cantik.


ANALISA MASALAH

Sebagai penggemar fotografi tentunya kita sudah memahami bahwa membuat foto yang bagus tidak hanya ditentukan oleh alatnya. Namun tidak urung fenomena munculnya kamera-kamera model baru tadi mengakibatkan:

  • Rasa minder dan kurang percaya diri bagi pemilik kamera model sebelumnya.
  • Rasa kecewa dan kesal bagi para konsumen yang baru saja membeli model yang tergantikan/terbaharui.
  • Kebingungan bagi calon pembeli kamera terutama pemula.
  • Muncul suara-suara sumbang dari kubu penggemar merek saingan yang membuat semakin bingung para pemilik kamera.
Jika kita cermati, sebagian besar dampak negatip di atas bisa dikendalikan jika kita meluangkan waktu sedikit untuk lebih memahami karakteristik memotret diri kita masing-masing. Apapun keputusan Anda dalam membeli/menukar kamera haruslah didasarkan pada fakta-fakta berikut:
  • Seberapa sering kita memotret? (misal: sepuluh gambar dalam sebulan, limaratus gambar dalam sehari)
  • Situasi memotret yang bagaimana yang paling sering kita hadapi? (misal: dalam ruangan, lapangan olahraga, perjalanan, studio, dsb.)
  • Berapa anggaran yang kita sediakan?
  • Seberapa perlu untuk memiliki kamera tersebut? (misal: harus punya besok, karena untuk memotret adik Anda yang akan menikah lusa)
  • Target waktu 'balik modal' dari kamera yang akan kita beli tersebut?
    Tips: jika Anda bukan profesional dalam arti dapurnya ngebul bukan dari fotografi, 'balik modal' bisa diukur dari kefasihan Anda dalam memahami penggunaan kamera tersebut. Contoh: jika Anda masih perlu lebih dari 2 detik dalam menyetel mirror lock-up atau white balance, mungkin kamera Anda itu masih belum 'balik modal'.

TENTUKAN PRIORITAS

Masih banyak lagi faktor yang bisa menjadi bahan pertimbangan, tapi beberapa butir yang saya sebutkan di atas kiranya cocok untuk Anda membuat daftar prioritas berdasarkan fitur-fitur yang diinginkan dari sebuah kamera seperti kepekaan ISO, kecepatan start-up, ketahanan batere, mode metering, kelengkapan asesori, dsb. Contoh daftar fitur yang baik salah satunya seperti di situs DPREVIEW (www.dpreview.com). Pada setiap review kamera, situs tersebut menyertakan spesifikasi berdasarkan:
  • Price
  • Body Material
  • Sensor
    ...dsb.
    ..dst.
  • Weight
  • Dimension
Dari fitur-fitur di atas, susunlah prioritasnya sesuai karakteristik memotret Anda dan mulailah membandingkan merek/model yang cocok dengan harga yang masuk dalam budget yang telah ditentukan (jangan bersikap fleksibel terhadap budget).

Bagi prioritas fitur yang Anda inginkan menjadi tiga tingkatan:
  • Prioritas 1: Must have. Kamera tersebut harus memiliki fitur ini.
  • Prioritas 2: Good to have. Fitur yang dianggap penting namun bisa dikorbankan jika memang tidak tersedia.
  • Prioritas 3: Nice to have. Fitur yang tidak penting, tapi kalaupun ada tentu lebih menyenangkan.
Bisa jadi Anda akan tercengang ketika mendapati bahwa ternyata Anda tidak membutuhkan sebagian besar fitur yang ditawarkan oleh sebuah kamera.

Penting:
dalam menyiapkan budget untuk membeli kamera, jangan lupa alokasikan juga budget untuk membeli kartu memori (misalnya: CF/SD/Memory Stick), batere cadangan, lensa (untuk DSLR), dsb. jika memang belum punya.


KESIMPULAN

Sekedar bertanya atau minta pendapat pada teman-teman atau penjual di toko kamera� memang boleh-boleh saja. Tapi tidak ada yang lebih mengenal karakteristik memotret Anda daripada Anda sendiri, sedangkan karakteristik tersebut adalah panduan utama dalam menentukan pilihan sebuah alat fotografi.

Apakah Anda jadi/tidak jadi membeli sebuah kamera baru, atau menukar kamera lama dengan model baru, tentu alasan sesungguhnya hanya Anda yang tahu. Jika Anda sudah melakukan analisa dan menentukan prioritas seperti di atas maka tidak akan ada rasa kecewa dan kesal akan keputusan Anda tersebut.

Biar saja pihak lain menggoda atau bahkan mencemooh, tapi Anda tahu betul bahwa inilah kamera yang betul-betul cocok untuk Anda saat ini, tidak sekedar karena ikut-ikutan, dan Anda memang tidak salah pilih. happy

Hartblei 80mm Super-Rotator Tilt Shift Lens MC TS-PC 80mm f/2.8, Tilt Shift Lens Bukan Hanya Untuk Foto Arsitektur

Oleh: Pujo C Agustiyanto

Latar belakang

Ini artikel pertama saya, jadi mohon maaf kalau masih amburadul. Dalam artikel ini saya ingin mengulas lensa yang biasanya digunakan untuk foto arsiktektur, lensa tilt-shift untuk perspective control. Tetapi kali ini saya mengunakan lensa dengan kemampuan tilt-shift ini untuk foto product, untuk mengkontrol ruang ketajaman. Tilt shift bukan hal baru bagi fotografer arsitektur, dan biasanya fotografer menggunakan kamera view atau medium format dengan lensa tilt-shift atau seperti hasselblad flex body.

Tapi saya ingin mencoba untuk mengexplore and membuktikan kalau tilt-shift bukan hanya untuk foto arsitektur saja menggunakan kamera format besar tetapi pengguna 35mm SLR atau DSLR juga dapat menggunakannya untuk foto selain foto arsitektur. Mungkin untuk para teman2 professional di forum ini yang sudah mengunakan kamera view untuk foto2 product mereka ini bukan hal baru lagi, tapi kamera view sangat terbatas sekali penggunaanya (maksudnya di studio saja). Kecuali teman2 tidak keberatan membawa kamera view untuk foto jalan2 atau foto session di lokasi. Serta keterbatasan dana yang membuat saya memilih lensa yang akan saya pakai dalam artikel ini.

Lensa dengan kemampuan tilt-shift sangat dibutuhkan oleh fotografer professional karena lensa ini dapat mengkoreksi perspektif secara analog. Maksudnya perspektif adjustment melalui lensa bukan software. Walaupun software2 sudah semakin canggih untuk kontrol perspektif tapi semua itu dilakukan bukan tanpa kehilangan pixel. Jadi kemampuan perspektif control dalam pemotretan dapat meningkatkan kualitas workflow kita.

Shift dari lensa di gunakan untuk mengkontrol perspektive dari foto, sedangkan kemampuan tilt untuk mengkontrol ruang ketajaman. Karena lensa yang saya pakai bukan wide angle jadi percuma untuk memberikan contoh kemampuan shiftnya, jadi saya hanya memberikan contoh untuk kemampuan tilt dari lensa ini.

Jika ingin tahu teori dasarnya, yaitu teorinya si Scheimpflug untuk ruang ketajaman silahkan liat sendiri kesini http://en.wikipedia.org/wiki/Scheimpflug_principle. Singkatnya kalo sumbu object dan sumbu kamera paralel maka fokusnya fokusnya jadi sempit. Untuk memperlebar ruang fokusnya salah satu sumbu object atau kamera harus di modifikasi. Sumbu object nggak mungkin di modifikasi (karena komposisi) jadi yah sumbu kamera yang di modifikasi dengan mengubah sumbu lensanya jadi separalel mungkin dengan sumbu object (contoh foto A and B).

Hampir semua merek besar membuat lensa spesial ini. Tapi jika melihat harganya membuat pengguna biasa jadi mundur teratur. Contohnya , lensa Nikon 85 mm f/2.8 PC Micro-Nikkor, atau Canon 90mm TSE Harga terakhir yang saya cek sekitar US$1600, kira2 sekitar 15 jutaan kalo di Indonesia. Kalo bekas mungkin masih diatas 10 jutaan. Untuk kantong kita2 yang hanya advance amatiran mengeluarkan duit puluhan juta untuk alat yang hanya dipakai sesekali sangatlah berat..

Jadi saya ingin mencoba alat yang dapat dipakai oleh kamera 35mm atau digital, ringan, ringkas, cukup terjangkau harganya, memiliki kualitas lensa yang tinggi, kuat (professional grade) dan yang terpenting mempunyai kemampuan tilt-shift. Saya memerlukan tilt-shift untuk dapat mengatur ruang ketajaman dan perspectif. Dan pemenangnya adalah

HARTBLEI 80mm Super-Rotator Tilt Shift Lens MC TS-PC 80mm f/2.8, The Monster

Setelah research selama berbulan-bulan saya menemukan lensa yang saya maksud diatas yaitu; HARTBLEI 80mm Super-Rotator Tilt Shift Lens MC TS-PC 80mm f/2.8.

Hartblei mungkin bukan merek baru di dunia fotografi. Mereka adalah pembuat kamera kiev system. Kamera tersebut cukup terkenal pada jaman dulu mungkin sektar tahun 70an. Walupun mereka masih membuaat kamera dengan format medium, tetapi kalah pamor dengan merek2 kamera sekarang seperti Mamiya, Contax, Hassie dan lain2.

Okay cukup segitu aja perkenalannya sama merek tersebut, kalo masih penasaran silahkan lihat langsung saja ke http://www.hartblei.com.

Kembali ke lensa, berikut spek dari lensa ini (note: foto lensa and spek dibawah diambil langsung dari website hartblei, http://www.hartblei.com)


Lens mount type

Canon EOS, Canon FD, Nikon, Minolta Dynax / Maxxum / AF, Minolta MD, Pentax K, M42 Zenit / Praktica / Pentax M, Leica R

Frame format

24×36 mm (35mm SLR / DSLR)

Focal length

80 mm

Focusing

manual

Maximum aperture

1:2.8

Aperture range

2.8 - 22 (manual, 12-blade)

Construction

6 elements in 5 groups

Angle of view

42° (45° with optical unit shifted)

Minimum focus

0.65 m

Filter size

Ø62 mm

Lens movement

TS-PC Super Rotator, both tilt and shift in any direction

Shift movement range

0 to 10 mm in any direction

Tilt movement range

0 to 8° in any direction

Rotation movement range

360°, with click stops every 15°

Dimensions

Ø88×80 mm

Weight

660 grams

Ketika saya melihat spek tersebut saya langsung kesengsem dengan lensa ini. 12 blade aperture pasti bisa menghasilkan bokeh yang cantik, hasil silahkan dinilai sendiri2.

Tilt-shift kesemua arah, wow, tidak satu pun lensa PC atau tiltshift buatan merek besar yang bisa melakukan ini, TSEnya canon rotate 180 derajat. Ini sama seperti saya membawa kamera view tanpa bebannya. Ukuran filter yang standard untuk Nikon yaitu 62mm, jadi nggak usah beli filter2 lagi kecuali uv atau protective filter untuk lensa ini. Dan setelah di telusuri optic lensa ini ternyata menggunakan teknologi lensa2 carl zeiss. Karena memang lensa2 carl zeiss ceritannya dulu di bikin di pabriknya hartblei. Yang paling penting adalah harganya hanya 1/3 dari harga lensa2 merek terkenal, US$500an saja baru gress. Merek tersebut juga mengeluarkan lensa 35mm dengan kemampuan yang sama tapi harganya lebih mahal $300. Mungkin kalo untuk foto arsitektur lebih baik pake lensa itu atau 24mm dari Nikon atau Canon.

Walaupun terlihat kayak monster lensanya tapi masih lebih ringan dan effective di banding medium format atau view kamera. Jadi saya manggil lensa itu monster lens

Untuk membeli lensa ini tidak bisa ditoko biasa, harus langsung dari pabriknya di kiev, Rusia. Saya beli lensa ini di Ebay sekitar US$500, dikirim langsung dari Rusia. Pemaketan cukup baik walaupun tidak rapih sekali. Didalam paket saya mendapatkan Lensa, soft pouch, lens cap depan dan belakang, dan manual singkat.

Kualitas bahan lensa sangat bagus, karena terbuat dari besi. Jadi agak berat, tapi kalo dibanding 85mm f/1.4 nggak beda jauh kok. Saya tidak secara detail mengukur kualitas lensa tersebut karena keterbatasan waktu. Tetapi saya hanya ingin menegaskan kalau lensa TS-PC bukan hanya untuk foto arsitektur saja.

Berikut adalah contoh hasil dari penggunaan lensa ini;

Technical detail:

Lighting : Hensel integra pro (Foto A dan B)

Kamera: Fujifilm S5pro

Lensa: Hartblei 80mm

Aperture: F/8

Speed: 1/125

Tilt: 8 0

Foto A



Foto B



Contoh untuk pemakaian foto portraiture foto C(maaf kalo nggak bagus, no post processing cuman di crop ajah fotonya, saya hanya ingin menunjukan bokehnya) Technical detail f/2.8, 1/40, iso 640 available light

Foto C

bokeh_hartblei

Kesimpulan

Mungkin foto2 diatas biasa saja dari segi teknik, maaf saya bukan fotografer professional (nggak cari makan lewat motret). Tapi semua komentar saya terima. Tapi mudah2an tujuan yang saya ingin sampaikan tercapai. Dengan menggunakan tilt-shift lensa ini dapat menghasilkan foto yang mempunya ruang ketajaman yang bisa diatur. Karena dalam foto produk ruang ketajaman adalah hal yang penting, walaupun perspektif juga penting. Lensa ini untuk ketajaman menurut saya cukup tajam setara dengan lensa2 nikon saya yang lain dan menghasilkan warna2 yang menarik. Bokeh (saya baru tahu kalau ini diambil dari bahasa jepang) juga nggak kalah sama fast lens nikon yang lain. Mungkin ada yang bisa membandingkan bokehnya dengan nikon 85mm f/1.4?

Kelebihan

  • Harga lebih terjangkau dibanding dengan merek asli dari Kamera
  • 12 blade aperture menghasilkan bokeh yang bagus
  • Tilt dapat di putar 360°
  • Shift dapat diputar 360°
  • konstruksi yang sangat kuat
  • Dapat dipakai di SLR atau D-SLR
  • Lebih mobile dibanding view kamera (dengan segala kekurangannya)
Kekurangan

  • Lensa terlihat besar
  • Tidak ada chip untuk kamera 2 modern
  • Tombol kunci pemutar tilt sulit dijangkau, terutama untuk kamera modern yang ujung kepalanya nongol
  • Untuk D-SLR agak sulit untuk focus (harus dibantu dengan Live-View)
  • Kualitas cap dan softcase tidak bagus
  • Manual hanya satu lembar saja untuk lensa yang cukup rumit pemakaiannya
  • Butuh learning curve yang tajam bagi pemakai biasa


Keunikan lain

Lensa ini dapat digunakan untuk stiching. Kira2 bisa nambah sekitar 80% foto untuk stiching dengan menggunakan fungsi shift. Tetapi saya belum coba.

Untuk fotografer portrait, mungkin bisa mengexplore lensa ini untuk selective focusnya. Di US ada beberapa fotografer portrait bahkan wedding yang pakai lensa tilt-shift.

Lihat foto yang pertama lensa saya tilt horisontal 8 derajat dan fokus pada anak yang sedang lari kecil, ruang ketajaman foto tersebut berubah menjadi hanya bagian tengah saja (memanjang kebelakang dari si anak kecil sampai kaki kursi bayi di ujung belakang sana), dan pinggir kiri dan kanan jadi tidak focus.

Detail untuk foto2 dibawah: f/2.8 , 1/30

Foto 1

hartblei_aksan


Untuk foto kedua lensa saya tilr 8 derajat vertikal dan fokus pada muka si anak (fotonya bukan nggak focus tapi goyang, maaf soalnya pake available light), ruang ketajaman hanya sebatas kepala dan leher saja, selebihnya out of focus

Foto 2

hartblei_aksan2

Tambahan

Saya kurang tahu untuk pengiriman ke Indonesia bisa atau tidak(aman atau tidak). Saya berdomisili bukan di indonesia, jadi pengiriman dari Rusia bukan masalah.

Ingin Menambah Koleksi Lensa ?

Oleh: Ngakan KEBO Maesa

Seseorang yang baru saja memulai hobi fotografi dengan membeli sebuah kamera dengan lensa kit, umumnya akan memiliki pertanyaan yang sama pada saat ingin menambah koleksi atau menambah range fotografi yang ingin ditangkapnya. Entah itu dengan alasan untuk melengkapi range jangkauan, menambah koleksi lensa, keinginan untuk memfokuskan diri ke suatu fotografi dengan minat yang lebih khusus, fotografi bidang macro misalnya, dan sebagainya. Pastinya pertanyaan yang sama yang akan muncul saat ingin membuat pertimbangan-pertimbangan dalam membeli lensa barunya, yaitu: "Lensa apa yang harus saya beli selanjutnya?"

Dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu, yang harus diketahui oleh si fotografer adalah mencoba untuk memilah antara kebutuhan dan keinginan. Tidak ada pilihan yang salah dalam pilihan ini. Kebutuhan lebih berorientasi, bahwa lensa yang ingin dibeli adalah lensa yang dibutuhkan untuk dapat menangkap momen yang ingin difoto.


Misalnya Setelah menggunakan lensa dengan range 18-55mm, dan kemudian menemukan minat baru dalam melakukan fotografi landscape karena lensa yang dimiliki ternyata tidak bisa menangkap "selebar" yang diinginkan, maka faktor ini yang mendorong fotografer untuk membeli lensa yang lebih wide, 10-22mm, 10-20mm, 11-18mm, dan seterusnya.


Pun, setelah menggunakan lensa sekelas 18-55mm yang umumnya mempunyai build quality, kontras dan warna yang masih di level "cukup" untuk menghasilkan gambar yang lebih baik, terkadang seorang fotografer juga memiliki kecenderungan untuk memiliki lensa yang lebih baik dalam hal performa kecepatan fokus, kualitas optik, kontras dan sebagainya. Misalnya, keinginan untuk membeli lensa 17-40mm L untuk CANON atau 17-55mm untuk NIKON, yang lebih didasarkan pada keinginan untuk memiliki lensa yang lebih baik dari sebelumnya. Pilihan ini pun tidak salah.


Dari 2 pilihan tersebut, tidak ada pilihan yang salah ataupun benar. Umumnya yang terjadi adalah pilihan yang lebih baik yang bisa diambil pada saat mengambil keputusan untuk membeli lensa yang baru. Bisa jadi kebutuhan untuk lensa dengan range yang lebih lebar merupakan keputusan yang baik pada saat ingin mendapatkan sudat pandang yang lebih lebar dalam mengambil gambar, namun merupakan keputusan yang kurang tepat jika ingin lebih berkonsentrasi untuk mengambil gambar lebih cepat dalam kondisi pencahayaan yang kurang.


Untuk mendapatkan jawaban yang pas untuk mendapatkan pertimbangan yang yang lebih baik dalam membeli sebuah lensa. Jawaban yang paling tepat akan datang dari fotografer itu sendiri, yang memiliki pengetahuan lebih akan kondisi dan permasalahan yang lebih sering dihadapi. Jadi seharusnya fotografer sudah memiliki jawaban atas pertanyaan-pertanyaan seperti di atas," Lensa apa yang harus saya beli selanjutnya?".


Untuk memulai pertimbangan-pertimbangan dalam membeli lensa. Ada baiknya setiap fotografer yang berminat untuk melakukan investasi lensa ini, menyusun pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:


  1. Lensa apa saja yang anda miliki hingga saat ini ?
  2. Apa minat anda dalam fotografi hingga saat ini ?
  3. Apa keterbatasan yang anda sering temui saat melakukan pemotretan ?
  4. Apakah keterbatasan itu termasuk keterbatasan untuk bisa memotret dengan jarak yang lebih dekat ?
  5. Apakah keterbatasan itu dalam bentuk tidak bisa mendapatkan eksposure yang lebih baik ? fokus yang kurang akurat, fokus yang kurang cepat, kontras yang rendah dan sebagainya.
Sejujurnya pilihan seorang fotografer pemula akan tidak begitu sulit karena umumnya setiap pemula akan memulai hobi fotografinya dengan menggunakan lensa kit seperti 18-70mm, 18-55mm, 17-85mm, 18-135mm ataupun 24-105mm. Maka lensa yang selanjutnya layak untuk dipertimbangkan, jika ingin menambah range jangkauan yang bisa difoto adalah berdasarkan keterbatasan yang dialami selama menggunakan lensa-lensa tersebut dan sebaiknya tidak terjadi overlapping yang tinggi dengan range lensa sebelumnya. Misal, setelah memiliki lensa 18-70mm untuk mendapatkan lensa dengan kemampuan tele yang lebih panjang maka lensa 18-135 bukanlah jawaban yang pas. Tentunya lensa 70-300mm bisa jadi pilihan yang lebih tepat.

Jadi secara praktis, umumnya pilihan dalam berinvestasi lensa adalah untuk membeli lensa yang memliki range jangkauan yang selama ini tidak bisa dikejar saat pemotretan (baik itu lebih lebar atau pun lebih tele), ataupun lensa dengan kemampuan yang lebih baik dalam kemampuannya di daerah yang memiliki pencahaayaan kurang (atau memiliki nilai diafragma yang besar). namun kali ini pembahasan akan lebih difokuskan pada kebutuhan atau keinginan untuk menambah range jangkauan lensa. Malah bila perlu mencari lensa dengan kemampuan untuk melakukan pemotretan yang lebih dekat sehingga didapatkan pembesaran yang tinggi dengan menggunakan lensa micro atau macro.



Lensa Tele


Menambahkan lensa tele ke dalam koleksi lensa anda, seperti 55-200mm atau 70-300mm, mungkin merupakan pilihan yang logis untuk menambah range lensa yang semual dari lensa kit. Dengan menggunakan lensa yang lebih tele, akan didapatkan perbesaran yang lebih untuk obyek foto dengan jarak yang sama dibandingkan lensa normal zoom atau lensa kit anda misalnya.

Atau ada saat di mana fotografer tidak dapat melakukan pemotretan lebih dekat lagi ke obyek foto karena keterbatasan dalam pemotretan misalnya pagar, sungai atau pun obyek foto di alam yang sangat berbahaya jika didekati. memotret Singa dalam taman safari misalnya.


Contoh foto dengan menggunakan lensa tele.

Foto Bekantan dengan menggunakan lensa 300mm dan TC2X


Lensa Lebar


Namun jika yang dialami adalah kesulitan untuk memasukkan semua elemen ke dalam sebuah frame sementara ruang untuk lebih mundur dalam mengambil gambar sudah tidak ada lagi, maka lensa yang dibutuhkan adalah lensa yang lebih lebar. Lensa dengan range 10-20mm, 10-22mm, 11-28mm atau 12-24mm merupakan pilihan yang cukup tepat untuk menjawab kebutuhan ini, kecuali anda menggunakan kamera dengan kemampuan full frame untuk kamera 35mm, maka range hingga 12mm sudah merupakan focal length yang sangat lebar bagi kamera anda.


Menggunakan lensa yang sangat lebar merupakan pilihan yang sangat menarik karena mampu menangkap area yang lebih luas (vista), bermain dengan efek distorsi namun akan lebih baik jika ditampilkan dengan komposisi yang baik dengan menyertakan elemen foreground hingga didapatkan "efek kedalaman" yang baik dalam sebuah foto. Penggunaan lensa yang lebih lebar lebih cenderung akan memberikan kesan "story telling" pada sebuah foto karena padanan elemen-elemen mulai dari foreground, middleground hingga background menjadi satu kesatuan cerita dalam sebuah foto.

Contoh foto dengan lensa wide

Foto Pantai Sanur di pagi hari dengan menggunakan lensa wide 12-24mm


Lebih Dekat

Jika ingin memotret obyek foto lebih dekat dengan tingkat detail yang tinggi, ada beberapa pilihan yang dapat digunakan untuk membuat jarak fokus dari kamera ke obyek foto menjadi lebih dekat. Contoh: penggunaan belows, extension tube, diopters, reversed lens,namun pilihan terbaik dan termudah adalah dengan menggunakan lensa micro/macro.


Pilihan focal length untuk lensa macro pun beragam, mulai dari lensa normal 50mm, 55mm, 60mm, tele foto seperti 85mm, 90mm, 100mm atau pun 105mm serta tele 150mm, 180mm dan 200mm, umumnya akan memberikan perbesaran yang kurang lebih sama di jarak fokus terdekatnya.


Jadi pemilihan focal length untuk lensa macro akan lebih didasarkan pada jarak kerja yang diinginkan. Jika obyek foto adalah foto produk, tentu akan memilih lensa dengan range yang lebih pendek (50mm, 55mm atau 60mm). Tapi jika untuk memotret obyek foto yang membutuhkan jarak lebih jauh agar tidak mengganggu obyek foto seperti kupu-kupu, serangga, dan sebagainya akan lebih mudah jika menggunakan lensa dengan range lebih tele, misalnya 180mm. Namun bukan berarti memotret serangga tidak bisa menggunakan lensa 60mm, namun effortnya akan lebih besar karena fotografer akan butuh kesabaran dan kamuflase yang cukup baik untuk mendapatkan hasil foto macro serangganya.


Selain itu masih ada efek perspektif kontrol pada lensa macro misalnya 85mm PC yang dapat digunakan untuk menghasilkan efek perspektif atau pun membuat efek perspektif jadi berkurang saat melakukan pemotretan. Namun adanya efek ini, juga akan membuat lensa menjadi lebih mahal.

Contoh foto dengan lensa macro.

Foto embun di daerah Embun Pagi, Maninjau dengan menggunakan lensa macro 150mm

Lensa Dengan Efek Khusus

Ada juga pilihan untuk mendapatkan efek khusus seperti area gambar yang melengkung seolah dilihat oleh mata ikan sehingga timbul kesan yang tidak biasa atau "out of the world". Namun untuk lensa-lensa dengan efek khusus seperti ini, cenderung mahal dan harus hati-hati dalam penggunaannya karena efek distorsinya yang sangat hebat. Bahkan jika tidak bijak menggunakannya, bisa merusak gambar yang ingin dihasilkan.

Pilihan-pilihan lensa dengan efek ini atau disebut dengan lensa fish eye, juga tersedia dalam produk 3rd party dengan harga yang lebih bersahabat, tersedia dalam focal length yang fix pada umumnya (8mm, 10,5mm, 15mm, 16mm dan seterusnya). Namun kini juga tersedia dalam bentuk zoom seperti yang dibuat oleh Pentax atau pun Tokina dengan lensa fish eye 10-17mm atau 17-28mm.

Contoh foto dengan menggunakan lensa fish eye

Foto Pulau Sikuai dengan menggunakan lensa fish eye 10.5mm