Tampilkan postingan dengan label Kamera Digital. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kamera Digital. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 Juli 2008

Kartu Memori Makin Besar Kapasitas, Makin Kecil Ukuran

Oleh: Arbain Rambey

Kartu Memori

Makin Besar Kapasitas, Makin Kecil Ukuran

DALAM dunia digital yang sudah kita jalani beberapa tahun ini, hal yang paling penting untuk terus dipikirkan adalah masalah penyimpanan data. Dan masalah ini selalu menyangkut ukuran, portabilitas,� serta yang paling penting kompatibilitas.

PADA saat komputer pribadi mulai memasyarakat pada awal tahun��� 80-an, media penyimpan data yang besar adalah hardisk. Pada pertengahan tahun 80-an itu, hardisk 5 megabytes, sekali lagi hanya lima megabytes, ukurannya sebesar dua buah batu bata.




�Kini, hardisk komputer pribadi sudah sebesar sepertiga sabun mandi dengan kapasitas sampai lebih dari 100 gigabytes. Sebagai gambaran, satu megabytes data itu kira-kira 400 halaman ketikan kwarto dengan program Word dalam mode penyimpanan rich text format (RTF). Sedangkan satu gigabytes adalah seribu mega. Jadi hardisk seratus gigabytes sebesar sepertiga sabun mandi itu mampu menyimpan tulisan 400 x 100 x 1000 halaman alias 40 juta halaman.

Namun dunia digital tidak hanya komputer pribadi yang bisa berupa desktop, laptop sampai dengan Personal Digital Assistant (PDA). Dunia digital juga sudah memasukkan kamera dan telepon dalam deret ini.

Maka, media penyimpanan data untuk kamera digital dan juga telepon genggam pun berkembang dengan pesat. Orang membutuhkan media penyimpanan yang berkemampuan besar namun berukuran kecil.

PADA pertengahan 90-an, saat kamera digital mulai memasyarakat, kaum profesional masih tergantung pada hardisk PCMCIA untuk media penyimpanan foto. Kamera digital pada saat itu umumnya memang hanya untuk para profesional saja.

Dan semenjak kamera digital memasuki dunia umum, perkembangan pembuatan kartu memori langsung terpacu demikian pesat.��Hal yang langsung mengemuka adalah masalah standar yang akhirnya menyangkut kompatibilitas. Kenyataannya, cukup banyak macam kartu memori yang berkembang dan beredar di pasaran. Di antara kartu-kartu memori itu, ada yang disukai orang sehingga terus berkembang dalam ukuran. Namun ada pula yang dihentikan produksinya karena kurang mendapatkan minat.

Kartu yang sudah dihentikan produksinya adalah Smart Media (SM). Kartu yang dikembangkan perusahaan Fuji ini karena tipis, maka ringkih. Kartu memori yang paling populer sampai saat ini adalah Compact Flash (CF). Kepopuleran kartu jenis ini karena daya tahannya yang luar biasa. Kompas pernah secara tidak sengaja meninggalkan CF di saku celana, dan celana ini lalu masuk mesin cuci. Tidak ada data yang hilang dari CF itu dalam sekali cuci.





Ketahanan CF membuatnya terus berkembang sehingga saat ini ia sudah mencapai ukuran 16 gigabytes. Namun yang tersedia di pasaran baru dalam kapasitas 4 gigabytes. Kepopuleran CF membuat perusahaan Sony yang memproduksi� Memory Stick (MS), akhirnya memberi peluang bagi pengguna kamera Sony untuk juga bisa memakai CF selain MS seperti pada kamera Sony DSC-828.

Kartu lain yang juga cukup populer adalah kartu SD. Sampai tahun 2002, kecenderungan yang muncul adalah, kartu CF umumnya untuk kamera pro sedangkan SD untuk kamera saku.��Namun setelah perusahaan Fuji dan Olympus bekerja sama membuat XD Card yang kecil namun berkapasitas besar, perkembangan kartu memori makin sengit lagi.

Pada tahun 2004 kemarin, tiga macam kartu memori baru muncul ke pasaran dengan ukuran yang sangat menakjubkan. TransFlash (TF) yang hanya seukuran ujung jari, masuk pasaran dengan kapasitas 128 megabytes. Dalam waktu dekat, TF akan memasuki kapasitas 1 GB.

Selain TF, muncul pula Reduced Sized Multi Media Card (RS-MMC) serta kartu SD yang diperkecil dengan nama Mini SD. Sebagai pengguna, tentu saja kita berharap perlombaan ini masih terus berlangsung.(Arbain Rambey)

Perkembangan Dunia Fotografi dengan Ponsel Multimedia

Oleh: Austein Adikoesoemo, Ali

Saat ini, telah kita ketahui bahwa Ponsel saat ini sudah mampu memberikan fasilitas Digital Camera dengan fungsi MMS sebagai provider. HP ini Cocok untuk tugas-tugas lapangan yg perlu komunikasi dalam bentuk kombinasi gambar, suara & teks dengan cepat & murah meriah, semisal lokasi & situasi pemotretan untuk di acc klien, contoh-contoh produk, keperluan messenger, belum terhitung keperluan keluarga, pribadi and gaul, dari skala lokal sampe global.

Bukan kirim antar HP aja, tapi juga bisa ke alamat e-mail teman and relasi, misalnya. Juga bisa browsing ke sistem jaringan biar cuma untuk berita yang tampilannya sederhana. Saya pikir tidak lama lagi bisa kirim ke Jangkauan Dunia. Ke depan, sarana ini dipastiken bisa jadi terobosan ke satu pola komunikasi baru yang sangat proaktif, bikin dunia makin menurun aja.

HP MMS yg paling murah (1 juta) saat ini bisa jatuh sewaktu-waktu, karena harga HP baru tiap minggu (hari) ngedrop. Maklum tiap bulan keluar model baru. Di samping itu kalo udah jadi barang seken harganya jatuh.
Contoh: HP saya yang setaon lewat harganya 2 juta, eh kemarin cuma ditawar 800 ribu. Ampun!
Kurang yakin? Gak Percaya? Coba deh jalan-jalan Roxy Mas pusat HP terbesar & terlengkap di Jakarta itu.

Lebih parah dari harga jual kamera digital sekon.
Akan tetapi, CCD makin lama makin canggih 1 mega ,2mega ,3 mega tiap 6 bulan sekali, keluar produk baru. Untuk HP dengan kamera saya rasa kurang memadai untuk sarana pemotretan, karena resolusinya yang terlalu kecil. Kalau boleh saya pilih lebih baik satu kamera digital poket (Nikon Coolpix, atau yang lainnya). Masalah utamanya adalah jaringanm, mungkin sekitar 2 tahun lagi baru konsep ini berjalan dengan baik.

HP berkamera bakal pemotretan (beneran?) nggak terlalu ke situ konsepnya. Lebih kepada pelengkap kebutuhan untuk kep informasi maupun komunikasi & utk hemat waktu dan ongkos, meski dari segi visual & resolusinya kurang.

Sekarang ini PDA yang ada HP nya... eh HP yang PDA... atau apalah, apa yang bagus, ya? Sony Er. T800 saja masih belum sempurna (koreksi kalau keliru). Kamari orang survey ka Roxy, harga HP 'anjlok' hanya 10%.

Jaringan & infra struktur di Indonesia Sepertinya menjadi pikiran utama. Selain itu antar provider maupun jaringan juga masih belum biasa. Dengan provider yang sama pun belum jamin bisa kalo HP nya beda merek, bahkan antar sesama merek beda tipe juga ada yang masih belum kompatible.

Lucu dan seru, para abg yang sekarang banyak pake HP ber kamera di Jakarta, umumnya beli lebih karena ngikutin trend, bergaya & bisa foto temen-teman untuk cuman dimasukin ke memori kameranya.

Yg menarik juga, beberapa produsen komputer udah mulai bikin printer yg dilengkapi slot bakal macam-macam kartu memori dg harga ekonomis & hasil bagus. Bisa langsung print sonder perlu PC. Apa ada hubungannya dg HP berkamera? Ke mana-mana bawa printer? Kurang jelas penjelasannya.

Yg penting, dlm dunia digital, (kalo bisa) paradigma kita selangkah di depan dalem hal konsep & kontens. Sementara perkembangannya diikuti terus, biar enggak terlampaui yang lebih maju. Biar lebih digital lagi, kata orang.

kalau kapan bisa membooming kamera berponsel, kayaknya kalo sekarang sih udah mulai. Dan yang akan susah merakyatnya kayaknya ya MMS nya, WAP dan fasilitas net via HP nya.

HP Multimedia selain memiliki keuntungan, juga ada kerugiannya:
1. Maksimal 4 Megapixel
Seperti yang kita tahu, Handphone hanya sebuah media komunikasi, sehingga jika ditambahkan fitur lain, maka kemampuannya bertambah, sekaligus menurunkan kemampuannya.
2. File Limited
Handphone berbeda dengan Digital Camera. Digital camera memiliki memory Chip maupun CompactFlash sebagai media saver. Akan tetapi, Handphone hanya memiliki SoftDisk yang maksimal 1GB.
3. No Blitz Modification
Blitz pengaruhnya cukup besar dalam bidang fotografi. Akan tetapi, hanya beberapa HandPhone saja yang memiliki kemampuan Blitz, itupun tidak maksimal.
4. Expert Battery
Kita tahu Baterai Handphone terbesar hanya 6V, sedangkan Kamera saat ini ada yang tanpa baterai, dan Baterai itupun maksimal hanya bisa bertahan 24 jam non stop.
5. Plasma Effect
Seperti Digital Camera, HP Multimedia juga memiliki Plasma Effect yang menggunakan Radioaktif yang dapat merusak Tulang dan mata bagian kornea.

Dengan Artikel tersebut, maka dapat kita ketahui bahwa saat ini Fotografi bukanlah lagi sebuah Hobby biasa, tetapi Hobby yang sudah dapat dilakukan oleh banyak orang.

Panduan Praktis untuk mencetak Hasil Foto Kamera Digital

Oleh: Yoni Tan

Sebelumnya ingin memperjelas dulu tentang kerancuan-kerancuan yang sering terjadi, yaitu :
  • Besar resolusi yaitu 1280x960 (1MegaPixel), 1600x1200 (2 MP ), 3MP maupun 4MP dan lain � lain itu adalah menandakan banyaknya titik yang ada dalam gambar tersebut. Semisal foto dengan resolusi 1600x1200 berarti ada 1600 titik di horizontal dan 1200 titik di vertikal.
  • Densitas foto 72dpi, 180dpi, maupun 300dpi (terlihat pada EXIF data yang menempel pada foto yang bersangkutan) itu menandakan tingkat kerapatan dari titik � titik tersebut dalam suatu satuan ukuran inch (dot per inch). Misalnya kita selama ini mendengar ada printer berkemampuan cetak dengan densitas 300dpi, 600dpi, 1200dpi, maupun 4800dpi. Contoh printer dengan kemampuan densitas 4800dpi itu berarti bisa mencetak sebanyak 4800 titik sepanjang garis 1 inch (2,54cm), begitu juga dengan printer berkemampuan densitas 300dpi berarti hanya bisa mencetak 300 titik sepanjang garis 1 inch (2,54cm).


Terkait dengan hal � hal diatas, maka kita patut mengetahui juga bahwa mesin cetak foto itu biasanya berkemampuan densitas 300dpi sehingga kita akhirnya sering memakai patokan ini sebagai standard densitas minimum yang diperlukan baik untuk mencetak di laboratorium foto ataupun dengan printer sendiri.


Berikut daftar ukuran kertas foto yang biasanya dipakai di laboratorium foto :

  • 2R = 6 x 9 cm
  • 3R = 8,9 x 12,7 cm
  • 4R = 10,2 x 15,2 cm
  • 5R = 12,7 x 17,8 cm
  • 6R = 15,2 x 20,3 cm
  • 8R = 20,3 x 25,4 cm
  • 8R Plus = 20,3 x 30,5 cm
  • 10R = 25,4 x 30,5 cm
  • 10R Plus = 25,4 x 38,1 cm


Kita akan mengambil contoh salah satu ukuran yang biasa dipakai yaitu 4R dalam hal ini, yaitu : 10,2x15,2cm

(10,2cm : 2,54) x 300dpi = 1204 titik atau pixel,

(15,2cm : 2,54) x 300dpi = 1795 titik atau pixel.

Dengan ini berarti kita mengetahui bahwa resolusi minimum yang dibutuhkan untuk mencetak 4R adalah 1795 x 1204 pixel.


Dalam hal ini berarti boleh dikatakan bahwa resolusi kamera digital yang mendekati ukuran tersebut mungkin adalah 2MP yaitu 1600x1200. Tetapi harus diingat bahwa adanya perbedaan rasio panjang lebar antara file kamera digital (4:3) dengan standar kertas foto (3:2) itu biasanya berakibat terjadinya cropping (pemotongan) pada samping2 foto karena laboratorium foto itu biasanya melakukan sedikit peregangan secara otomatis pada file � file yang bersangkutan, misalnya foto dengan resolusi 1600x1200 akan diperbesar menjadi 1795x1346 untuk memenuhi ukuran frame minimal dari 4R untuk kemudian dicropping lagi sehingga bagian yang tercetak itu tetap beresolusi 1795x1204.


Ada beberapa kasus dimana ada yang berhasil melakukan pencetakan dengan ukuran 8R hanya dengan kamera 2MP ataupun juga mungkin bisa 10R. Dalam hal ini kita harus melihat lagi beberapa hal yaitu :

  1. Kompleksitas dari gambar yang diambil, misalnya gambar � gambar dokumentasi orang tentunya jauh berbeda tingkat detailnya dibandingkan dengan gambar pemandangan alam misalnya pada waktu sunrise. Dalam hal ini gambar orang biasanya lebih mudah untuk diperbesar dibandingkan dengan gambar pemandangan alam. Perkecualian jikalau foto dokumentasi lebih dari 15orang ataupun satu orang tetapi ingin menampilkan detail urat muka yang pada dasarnya juga berarti kompleksitas gambar cukup tinggi.
  2. Tingkat kompresi dari gambar yang dipakai (dengan ACDSee biasanya terlihat dengan click kanan properties, bagian file, di compression ratio). Biasanya file � file yang berpotensi dan bisa dicetak jauh lebih besar dari ukuran yang direkomendasikan itu file � file dengan tingkat kompresi antara 5 � 10. Lebih dari itu, biasanya sulit sekali untuk meningkatkan ukuran gambar.
  3. Ada beberapa kamera yang menyediakan mode RAW dan juga mode TIFF pada hasil akhir gambar yang ditangkap, dalam hal RAW file dan TIFF file itu tidak terdapat kompresi sama sekali sehingga sangat dimungkinkan untuk melakukan resize ulang untuk melakukan cetak pada ukuran lebih besar.


Dari 3 hal diatas, (dari pengalaman pribadi) juga bisa dilakukan cetak pada 10R maupun 12R dengan kamera 4MP meskipun secara perhitungan tidak memungkinkan untuk melakukan pencetakan tersebut. Dalam hal ini kita bisa melakukan test sederhana apakah file yang bersangkutan masih bisa untuk dicetak pada ukuran yang bersangkutan atau tidak dengan cara melakukan image resize pada photoshop dan kemudian melihat apakah detail - detail tersebut masih bisa terlihat.



Semoga artikel berikut ini berguna sebagai panduan dalam melakukan pencetakan foto dari kamera digital. Di bawah ini terdapat daftar acuan praktis untuk pencetakan foto yang diinginkan beserta resolusi yang dibutuhkan.

  • 3R = 8,9 x 12,7cm @300 dpi = 1051x1500 pixel
  • 4R = 10,2 x 15,2cm @300 dpi = 1205x1795 pixel
  • 5R = 12,7 x 17,8cm @300 dpi = 1500x2102 pixel
  • 6R = 15,2 x 21,6cm @300 dpi = 1795x2551 pixel
  • 8R = 20,3 x 25,4cm @300 dpi = 2398x3000 pixel
  • 8R Plus = 20,3 x 30,5cm @300 dpi = 2398x3602 pixel
  • 10R = 25,4 x 30,5cm @300 dpi = 3000x3602 pixel
  • 10R Plus = 25,4 x 38,1cm @300 dpi = 3000 x 4500 pixel

Infrared Photography pada Kamera Digital

Oleh: Azwar Hadi Kusuma, AHK

Normalnya sewaktu kita buat foto, kita mengharapkan hasil yang tajam dengan warna-warna yang sesuai dengan aslinya atau natural. Bagaimana bila kita ingin mencoba melewati batas-batas normal? Ingin hasil foto dengan warna-warna yang lain dari yang lain? Cobalah Infrared Photography...

Itulah kalimat yang sempat saya baca pada suatu artikel. Sangat menarik. Setelah mencoba baca-baca dan menelusuri beberapa link di internet, saya mencoba berkreasi membuat foto-foto infrared dengan menggunakan kamera digital, yang menurut saya cukup mudah.


Filter Infrared

Berbeda dengan kamera film yang menggunakan film IR, untuk membuat foto-foto infrared pada kamera digital dibutuhkan filter Hoya Infrared R72.

Dari salah satu artikel di internet yang saya baca, filter ini cocok digunakan pada kamera digital untuk menghasilkan foto-foto infrared. Sebenarnya masih ada beberapa jenis filter infrared lainnya yang juga dapat dipakai, namun hanya filter Hoya R72 ini yang dapat saya temukan di toko kamera di Jakarta.


Test Kamera Digital Anda

Sebelum anda beli filter infrared, sebaiknya anda test dulu kamera digital anda. Menurut artikel tersebut, ada beberapa kamera digital yang tidak dapat meng-capture/tidak sensitive terhadap cahaya IR. Testnya juga sangat mudah yaitu dgn menggunakan remote control untuk TV, AC, atau peralatan Audio Video lainnya.

Seperti yang sudah kita ketahui, remote control menggunakan cahaya infrared untuk menyampaikan perintah ke suatu device. Hadapkan aja remote control ke depan lensa kamera digital anda, lalu tekan salah satu tombolnya. Pada kamera digital consumer atau prosumer, kita bisa lihat langsung pada layar LCD. Kalau menggunakan DSLR, kita mesti capture/shot terlebih dahulu, baru lihat hasilnya pada layar LCD.

Jika pada hasilnya terlihat cahaya terang yg berasal dari remote control, itu berarti kamera anda dapat menggunakan filter infrared tersebut untuk dapat menghasilkan foto-foto infrared. Tetapi kalau terlihat hanya cahaya yang lemah atau tidak terlihat cahaya sama sekali, kamera digital anda tidak lulus test ini, dan tidak dapat digunakan untuk membuat foto-foto infrared.

Hasil test yang dilakukan pada kamera digital saya (Canon G3) dapat dilihat dibawah ini.




Tehnis Foto

Saya akan coba sharing seting kamera digital saya dalam menghasilkan foto2 infrared menggunakan filter Hoya R72 berikut ini:

1. Selalu gunakan tripod. Filter infrared akan sangat mengurangi cahaya dan pemotretan biasanya selalu menggunakan kecepatan lambat;
2. Biasanya saya mengatur komposisi terlebih dahulu sebelum memasang filter infrared pada lensa. Filter infrared yang berwarna merah pekat ini akan sangat menyulitkan melakukan komposisi jika sudah terpasang;
3. Kamera digital juga akan kesulitan dalam melakukan auto focus. Saya selalu menggunakan manual focus dengan mengatur focus ke infinity;
4. Setelah melakukan beberapa uji coba, seting eksposur yang pas (IMHO) pada kamera digital saya adalah dengan menggunakan shutter speed priority pada kecepatan 4 detik. Seting eksposur ini sangat tergantung pada sensitivitas kamera pada cahaya infrared. Silahkan lakukan uji coba sendiri untuk mendapatkan seting eksposur yang tepat pada kamera digital anda;
5. Menggunakan seting ISO yang terendah (ISO 50 pada Canon G3). Hal ini untuk mengurangi noise yang muncul karena pemotretan pada kecepatan lambat;
6. Pemotretan infrared ini selalu saya lakukan dalam mode warna. Hal ini akan memberikan kebebasan pada saya untuk merubah warna hasil foto lebih lanjut ataupun merubahnya ke BW dengan menggunakan PS;
7. Saya selalu menggunakan jenis file RAW (uncompressed data). File jenis ini akan menghasilkan kualitas foto yang terbaik.
8. Ingat, setiap jenis kamera digital punya sensitivitas pada cahaya infrared yang berbeda-beda. Jadi seting di atas juga kemungkinan berbeda pada setiap jenis kamera digital.


Hasil Foto

Hasil foto infrared dengan seting di atas akan nampak seperti dibawah ini:



Foto di atas dihasilkan menggunakan Canon G3, dengan menggunakan kamera digital jenis lain mungkin akan terlihat berbeda. Terlihat hasil foto agak kemerah-merahan cenderung ke ungu, daun, rumput dan tumbuh-tumbuhan berwarna terang, dan langit menjadi gelap dgn awan yang agak terang. Pertama kali melihat hasilnya di kamera digital, saya sampai takjub sendiri. Seperti melihat dunia lain.


Digital Darkroom

Keuntungan lain menggunakan kamera digital adalah kita dapat melakukan koreksi warna di computer dengan menggunakan program Photoshop (PS). Misalnya dengan mengubahnya menjadi BW. Salah seorang rekan di FN ada yang menyarankan untuk mengambil channel red saja, sehingga akan menghasilkan BW yang bagus.

Setelah mencoba berbagai koreksi warna dengan PS, saya menemukan satu trik mudah untuk merubah hasil foto infrared menjadi warna-warna yang dramatis. Saya suka sekali dengan warna yang dihasilkan, yang menurut saya (IMHO lagi) jadi hampir mirip dengan foto-foto infrared yang dihasilkan oleh film IR. Yaitu dengan mengaplikasikan Auto Level dan USM pada setiap channel (Red, Green, Blue). Maka warna akan otomatis berubah menjadi warna-warna surealis. Dan hasilnya jadi tambah dramatis.

Setelah diaplikasikan AutoLevel dan USM pada setiap channel, foto infrared di atas akan menjadi seperti dibawah ini:



Silahkan mencoba sendiri koreksi warna ini. Tidak ada warna yang pasti dalam infrared photography. Semua tergantung pada hasil foto dan diri anda. Kreatifitas adalah kuncinya.

Untuk melihat foto-foto infrared yang sudah saya upload ke FN, silahkan lihat pada gallery Surreal Images disini.


Penutup

Mohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan dan sangat sederhananya artikel ini. Saya hanya ingin berbagi pengalaman kepada teman-teman di FN. Sayapun masih harus banyak belajar di infrared photography ini. Mohon koreksi dan petunjuk teman-teman semua.

Mudah-mudahan artikel ini dapat memberikan nuansa lain atau variasi lain di FN terlepas dari pro kontra digital darkroom. Karena bagaimanapun juga peraturan-peraturan dasar photography seperti komposisi, pemilihan obyek, dan pemilihan eksposur yang tepat, tetap menjadi suatu hal yang mutlak untuk menghasilkan foto-foto infrared yang berkualitas.

Selamat mencoba�!

AHK


Referensi:

- Infrared Basics for Digital Photographers
- Infrared Photos
- Kleptography

Tele-Converter dan Wide-Angle-Converter untuk Kamera Digital

Oleh: Louis Iskandar

Test dan Laporan Seputar Digital Kamera

Masa sekarang sangat banyak yang memakai Digital Kamera atau dari analog ke
Digital Kamera. Digital kamera mempunyai banyak kelebihan seperti foto hasilnya
bisa langsung dilihat di computer, kecil dan praktis, tidak usah membeli film, dan masih banyak lagi.
Banyak semi profi atau hanya hobby fotografer yang merasa kekurangan dari digital
kamera.

Jika ingin memfoto jarak jauh atau memfoto pemandangan, merasa para
fotografer suatu kekurangan dari All in One Digital Kamera, yaitu Objektiv yang
tidak bisa ganti, biasanya sekitar dari 35mm - 100mm. Oleh karena itu muncul
Converter untuk digital kamera. Sebuah Converter memungkin Objektiv dari digital
kamera diperkecil (Wide-Angled- Converter) sehingga bisa mengambil gambar yang
lebih lebar daripada tanpa converter atau dengan Objektiv dari kamera diperbesar
(Tele-Converter) sehinnga mungkin menmfoto dari jarak yang sangat jauh.




timbul pertanyaan, apakah bagus dengan tambahan Converter, bagaimana dengan
warna dan kualitas dari fotonya. Beberapa minggu yang lalu saya mempunyai
pertanyaan yang sama juga. Saya mencoba bertanya di forum dari fn, mencari-cari
artikel di internet, membaca majalah-majalah foto untuk mencari jawabannya.


Setelah saya mengumpulkan informasi-informasi yang saya perlukan, saya pergi
ketoko-toko foto untuk mencoba beberapa Converter. Saya bisa membawa beberapa
converter kerumah untuk lebih jelas dicoba pada digital kamera saya. Dan dengan
pengalaman ini, saya mencoba menulis artikel untuk menbagi pengalaman saya
dengan teman - teman lain di fn.



Tentang Converter



Seperti yang saya jelaskan pada kata pembuka, ada 2 jenis Converter untuk
digital Kamera:



  • Wide-Angle-Converter : digunakan untuk menghasilkan foto yang lebih lebar.
    Dipasaran tersedia untuk converter jenis ini, converter dengan faktor pembesar
    0,25 sampai 0,7. Dengan Faktor ini meningkat kemampuan digital kamera dalam
    bidang wide-angled� sampai 9mm.

  • Tele-Coverter: digunakan untuk mengambil foto dari jarak yang jauh.
    Dipasaran tersedia untuk converter jenis ini, converter dengan faktor
    pembersar 1,4 sampai 2.0. Dengan Faktor ini meningkat kemampuan digital kamera
    dalam bidang telefoto sampai 500mm.


Untuk memakai Converter ini harus sebuah digital kamera yang mempunyai
sambungan yang memungkinan penambahan ala tambahan pada objektivnya. Pada
umumnya pembuat digital kamera menawarkan Converter untuk produktnya, seperti
Fuji, Canon, Sony, Olympus, atau Nikon, tapi untuk haraga yang sangat mahal.
Dipasaran banyak peruhaan lain yang membuat Converter untuk digital Kamera,
seperti Soligor, Digital Optics, Hama, Kenko, dan lain lain,
perusahaan-perusahaan ini menawarkan alternativ yang lebih murah untuk Converter.
Converter ini bisa dipasang langsung ke objektiv digital kamera jika
sambungannya pas, atau menggunakan adapter yang bayan dijual dipasaran atau ikut
dikirimkan bersama converter.


Hasil Test


Untuk test saya memakai Digital Kamera Fuji S304 dan beberapa Converter dari
berbagai perusahaan. Banyak perbedaan hasil dari setiap Converter, ada yang
menurunkan kualitas gambar, ada yang mempucat warna, ada yang menimbulkan
bayangan. Dari semua Test dan hasil yang saya coba, ada beberapa Converter yang
menghasilkan foto yang setidaknya bagus contohnya dari perusahaan Soligor. Saya
mengambil kesimpulan dari Test ini, biasayan pada bagian Wide-Angle -Converter
Faktor pembesar dibawah 0,66 sangat tidak dianjurkan, sampai faktor 0,66 gambar
yang dihasilkan oleh semua converter masih bagus tapi dibawah faktor ini
rata-rata ada perubahan kualitas atau bayangan dari foto yang dibuat. Untuk Tele
dianjurkan tidak lebih dari Faktor 1,5, karena diatas itu biasanya tidak bisa
digunakan, buram, atau warnanya benar benar berubah.


Tapi test ini hanya menggunakan satu model kamera, jadi untuk kamera yang
lain, atau Converter dari perusahaan lain, saya anjur anda mencoba dulu di toko
foto. Cobalah ditempat penjual mengambil beberapa foto dari maximal faktor
sampai minimal faktor, lalu bandingkan satu sama lain danbandingan dengan hasil
tanpa Converter.

Pengetahuan Dasar Kamera Digital - BAGIAN 2

Oleh: Willy Sutrisno

�Pengetahuan Dasar Kamera Digital (Bagian 2)

Lanjutan dari artikel saya yang pertama (Pengetahuan Dasar Kamera Digital). Kali ini saya mencoba untuk menjelaskan lebih jauh mengenai kamera digital. Untuk artikel kali ini saya akan membandingkan kamera digital dengan kamera analog. Topik yang akan dibahas sebagai berikut:
- Ukuran sensor pada kamera digital dibanding dengan kamera analog
- Penggunaan ISO pada kamera digital
- �Focal Length� antara DSLR dengan SLR

Ukuran sensor pada kamera digital dibanding dengan kamera analog
Seperti yang saya utarakan pada artikel sebelumnya. Kamera digital kelas prosumer dan consumer mempunyai sensor CCD/CMOS yang sangat kecil. Sebagai perbandingan silahkan lihat gambar di bawah.



Kamera yang menggunakan 1/1.8 sensor biasanya adalah kamera kelas consumer, contoh: Olympus C-5060. Kamera yang menggunakan 2/3 sensor, contoh: Sony F717, Nikon 5700. Kelas DSLR menggunakan sensor yang lebih besar, seperti Canon D60 menggunakan 4/3 format. Sampai saat ini hanya satu digital kamera yang mempunyai sensor sebesar 35mm, kamera itu adalah Canon 1Ds. Jika anda ingin tahu ukuran sensor kamera anda, silahkan check �data sheet� kamera anda, bisa didapat dari www.dpreview.com atau www.imaging-resource.com

Total pixel antara sensor 2/3 dengan 4/3 bisa saja sama, contoh: 4 Megapixel (4 juta pixel). Yang membedakan keduanya adalah ukuran pixel. Semakin luas suatu sensor maka makin besar pula pixelnya. Pixel yang lebih besar akan menguntungkan pada penggunaan ISO yang tinggi.


Penggunaan ISO pada kamera digital
Dengan menggunakan sensor yang lebih besar maka otomatis pixelnya juga lebih besar. Pixel yang lebih besar memungkinkan kita untuk menggunakan ISO yang lebih tinggi. Maka dari itu jangan kaget apabila beberapa DSLR mempunyai ISO setting sampai 3200. Dimana pada kamera kelas prosumer seperti G3, ISO 400 akan menghasilkan foto dengan noise yang sangat tinggi. Ini semua disebabkan oleh sensor size, semakin besar semakin bagus. Tetapi tentu saja sensor itu salah satu component yang paling mahal di kamera digital.

Berhubung kamera digital tidak mempunya film maka setting ISO dilakukan oleh perangkat elektronik di dalam kamera anda. Sewaktu anda merubah ISO value misal dari ISO100 ke ISO200, kepekaan sensor didalam kamera anda ditingkatkan. Dan di dalam dunia elektronik, nothing is perfect. There is always something to trade. Sewaktu ISO ditingkatkan sensor kamera anda diset supaya lebih sensitif terhadap cahaya. Misalkan sewaktu menggunakan ISO100 anda harus menggunakan shutter speed 1/15, apabila anda menaikkan ISO rating menjadi ISO200 maka otomatis shutter speed menjadi 1/30 (1 stop difference). The down side is, kalau sensor dinaikkan maka sensor akan mudah menangkap �noise�. �noise� berwujud bercak-bercak di dalam foto anda, �noise� akan lebih terlihat jelas apabila anda mencoba mengambil shot pada situasi minim cahaya.

Contoh lain ibarat kalau anda mendengarkan lagu dengan perangkat Hi Fi, jika volume kecil maka suara yang muncul akan jernih. Tetapi bila anda mencoba menaikkan volume, maka pada suatu saat suara yang muncul akan terdengar pecah. Kira-kira seperti inilah noise itu.

�Focal Length� antara DSLR dengan SLR
Penjelasan dibawah ini hanya berguna bagi pemilik SLR dan DSLR, kamera digital kelas prosumer tidak perlu pusing tentang �focal length� sebab lensa yang ada di kamera terpasang mati. Apabila anda membeli lensa tele 100mm dan dipasang ke kamera SLR anda, maka 100mm itu adalah �focal length� lensa anda. Tetapi bila anda memasang lensa yang sama pada DSLR contoh Canon 300D, maka �focal length� yang didapat bukan 100mm, tetapi 160mm (100mm x 1.6). Sebenarnya �focal length� lensa anda tetap 100mm, tetapi �angle of view� akan membuat hasil foto anda seolah-olah dihasilkan dari lensa 160mm. Ini berhubung dengan ukuran sensor kamera anda yang lebih kecil dari 35mm. Hal ini hanya berlaku pada kamera yang mempunyai ukuran sensor lebih kecil dari 35mm, Canon 1Ds tidak mengalami hal diatas.

Agar lebih jelasnya, silahkan lihat di foto dibawah ini. Full frame adalah hasil dari lensa 100mm yang dipasang pada Canon 1Ds atau kamera SLR. Kotak kecil didalamnya, adalah hasil yang anda dapatkan bila kita memasang lensa yang sama pada Canon 10D atau 300D.


Sepintas kita berpikir bahwa kita mendapat untung, sebab dengan membeli 100mm maka dapat menghasilkan 160mm. Memang betul, cuman ini semua hanya ilusi sebab panjang fokal lensa anda tetap 100mm, hanya gambar yang dihasilkan seolah-olah berasal dari 160mm lensa. DOF (Depth of Field) yang dihasilkan juga sesuai dengan perhitungan lensa 100mm, bukan 160mm. Dan satu lagi hal yang membikin sebagian orang kesal apabila anda suka memakai lensa lebar (Wide angle lens), maka anda harus membeli lensa yang lebih lebar untuk mendapatkan efek yang anda inginkan. Bayangkan suatu shot harus menggunakan lensa 24mm di kamera SLR, tetapi sewaktu anda memasang 24mm ke DSLR anda maka �effective focal length� menjadi 38.4 (24mm x 1.6). Jadi untuk mendapatkan 24mm, anda harus membeli lensa lebih lebar. Tentu saja semakin lebar suatu lensa maka semakin mahal, maka bagi pecinta wide angle shot bakal kecewa dengan keterbatasan ini. Kecuali anda menggunakan Canon 1Ds yang mempunyai sensor sebesar 35mm, so what you see is what you get.

Conclusion
Kelihatannya dari awal yang kita baca cuman sisi negatif melulu dari kamera digital. Sebenarnya kalau mau lihat sisi positif, maka sisi negatif itu bisa dilupakan. Bayangkan anda tidak perlu membeli film lagi, tidak perlu capek-capek scan film/slide, tidak perlu pusing soal ISO dan masih banyak lagi.

Akhir kata, as I always said. Digital is the future, sooner or later film will be phase out. Mungkin film masih bisa survive, tetapi hanya sebagai pendamping digital.


Links:
Digital Camera Sensor
http://www.nut-n-but.net/CCPCUG/TechBrief%20Articles/TB0305.html

Imaging Sensor
http://www.siliconimaging.com/ARTICLES/sensors.htm

Pengetahuan Dasar Kamera Digital

Oleh: Willy Sutrisno

Apa yang dimaksud dengan Digital?

Sebelum kita membahas apa itu kamera digital, mungkin kita bisa mencoba mengerti dulu apa sih yang dimaksud dengan Digital? Bagi yang belum tahu, dunia kita ini semuanya adalah analog. Bisa dibilang manusia mengenal digital tidak terlalu lama. Dahulu kala semua mesin dan peralatan mesin dijalankan secara analog, bahkan sampai sekarang pun masih banyak mesin yang masih menjalankan system analog. Contoh terutama adalah kamera anda sendiri. Lensa anda memakai teknologi mekanik. Meski demikian kamera yang memakai film sebagian besar pasti mempunyai bagian yang memakai teknologi digital. Jika kamera itu mempunyai panel LCD, sudah pasti itu merupakan teknologi digital. Menurut saya "Digital is the future", mau tidak mau kita tidak bisa menghindar bahwa semua yang ada di sekitar kita akan memakai teknologi digital.

Apa yang dimaksud dengan Kamera Digital?

Saya rasa semua orang pasti pernah melihat kamera. Kalau tidak mana mungkin anda mengunjungi site ini. Tapi mungkin saja sebagian dari anda yang belum pernah memegang kamera digital (tidak bermaksud mengejek). Secara penampilan kamera digital mirip dengan kamera biasa (jenis film), perbedaan terbesar kamera digital tidak memakai film. Lupakan lah pergi ke toko membeli film setiap kali anda mau pergi memotret. Kamera digital tidak memerlukan film sama sekali. Ini semua diganti dengan media penyimpan yang bisa dihapus ulang, layaknya disket komputer. Nah disket komputer khan mempunyai kapasitas sendiri, sama juga dengan memory kamera ini. Sizenya dari 8MB sampai ke 4GB (4000 MB), data ini valid pada saat Dec 2003. Formatnya pun bermacam-macam, sebagai contoh: Compact Flash (Type 1 dan 2), SD card, MMC card, Memory Stick (Khusus kamera Sony), Disket, CDR. Satu hal yang pasti dari adanya media seperti ini, anda bisa menghemat biaya karena media ini bisa dipakai berkali-kali.

Mari kita masuk ke bagian teknikal dari kamera digital ini. Pertanyaan.... bagaimana kamera digital menangkap cahaya yang masuk dari lensa? Cahaya ini tidak ditangkap oleh memory (lihat atas), kerja memory hanya menyimpan gambar yang sudah diproses. Cahaya yang masuk sebenarnya ditangkap oleh CCD sensor atau CMOS sensor. CCD (Charged Coupled Device) dan CMOS (Complementary Metal Oxide Semiconductor) adalah suatu chip yang terletak tepat di belakang lensa anda.
CCD Sensor (Tidak sesuai ukuran asli). Ukuran asli jauh lebih kecil

Untuk kebanyakan kamera digital di pasaran chip ini kecil sekali, lebih kecil dari ukuran film 35mm. Pada saat ini hanya satu kamera saja yang mempunyai sensor sebesar 35mm yaitu Canon 1Ds. Jadi untuk kamera digital, sensor inilah yang dimaksud dengan film. CCD dan CMOS adalah 2 teknologi yang umum digunakan di dalam kamera. Umumnya kamera yang ada di pasaran menggunakan CCD sensor. Masih ada satu jenis chip yang dinamakan X3 sensor, tapi ini masih belum umum digunakan karena masih mahal harganya dan kualitas photo yang dihasilkan masih tidak terlalu berbeda dengan 2 sensor yang saya utarakan sebelumnya. Setiap kali anda membeli kamera pasti ditanya mau beli yang berapa megapixel, tahukan anda megapixel disini adalah jumlah pixel pada CCD atau CMOS sensor anda. Jadi kalau anda mempunyai 4 MegaPixel camera, berarti CCD sensor anda mempunyai sekitar 4,000,000 pixel. Satu pixel itu sangat kecil, dan satu pixel itu hanya menangkap satu jenis warna. Jika sensor diatas diperbesar sampai pixelnya terlihat maka kira-kira yang akan anda lihat seperti gambar dibawah.


Kebanyakan sensor di pasaran memakai format RGBG, pixel untuk menangkap warna hijau lebih banyak. Pixel-nya sendiri tidak berwarna, diatas pixel ada coating warna.

Berhubung kamera digital mempunyai sensor yang lebih kecil dari film, maka panjang fokal lensa pun tidak berlaku seperti layaknya pada kamera film biasa. Idealnya sih seharusnya ukuran sensor harus setara dengan film, tetapi itu merupakan hal yang tidak memungkinkan. Sebab untuk membuat ukuran sensor sebesar film maka harga kamera anda bisa selangit (Hanya Canon 1Ds mempunyai sensor sebesar 35mm, harganya $$$$). Lagipula dengan ukuran yang mini seperti sekarang saja, kualitas gambar sudah lumayan memuaskan.

Plus and Minus of a Digital Camera

Seperti yang saya utarakan terlebih dahulu bahwa "Digital is the future", maka saya akan memberikan beberapa point plus dari Kamera digital dibanding kamera yang memakai film:
- Kalau dihitung secara jangka panjang, kamera digital lebih murah. Sebab tidak perlu membeli film, dan hasil potret yang gagal bisa dihapus dan tinggal mengambil shot lagi.
- Hasil potret real time, kita dapat melihat hasil apakah bagus apa tidak.
- Karena format sudah digital maka untuk proses editing sangat mudah, hanya perlu dihubungkan ke komputer dan diedit (Scanner sudah tidak diperlukan lagi)
- Memory kamera digital sangatlah besar sehingga anda tidak perlu terlalu cepat membeli memory baru

Tidak ada teknologi yang sempurna, maka dari itu saya perlu memberikan point minus dari kamera digital:
- Kamera digital cenderung memiliki shutter lag yang lebih lama dibanding kamera jenis film.
- Harga kamera yang cenderung mahal dibanding kamera jenis film
- Karena ukuran sensor yang tidak sesuai dengan kamera jenis film, maka untuk mendapatkan wide angle shot pada DSLR diharuskan membeli lensa yang lebih lebar.

Sekian dulu artikel ini, semoga pengetahuan ini dapat berguna bagi para pembaca. Semua pengetahuan yang ada disini saya ambil dari berbagai sumber, salah satu sumber yang menurut saya sangat lah lengkap adalah dpreview.com. Silahkan mengunjungi site ini, untuk pengetahuan kamera digital bisa klik link "Glossary". Untuk buku yang membahas Digital Photography, saya sarankan buku dari Tom Ang berjudul "Digital Photographer's Handbook". Buat anda yang ingin belajar mengenai basic photography saya bisa menyarankan "National Geographic Photography Field Guide: Secrets to Making Great Pictures".